Aku bangga jadi anaknya

Nama papaku, H. A.Bunyani, Nama mamaku, Cek Ron.

Aku tidak tahu apakah dimasa hidupnya dulu papa dan mamaku adalah orang-orang yang disukai atau sebaliknya orang-orang yang tidak disukai. Papaku dulu sebelum pensiun adalah seorang karyawan pertamina. kerjanya di Sungai Gerong, memiliki kantor yang besar dan luas di mana lantainya dilapisi karpet tebal berwarna hijau. ada ruang khusus papaku dan di dekat ruang tersebut ada ruang rapat yang udaranya selalu sejuk karena AC, kata papaku di ruangan tersebut tidak boleh ada rokok, waktu aku tidak tahu alasannya.

Kata orang-orang disekitarku (saat itu) papa adalah kepala personalia pertamina  bagian diklat atau apa aku saat itu tidak paham, namun yang kutahu betapa sering papa didatangi tamu dan semuanya ramah-ramah padaku baik orang yang seperti diriku, pribumi Indonesia kesipit-sipitan, ataukah besar tinggi macam orang eropa. mereka baik sekali tapi kata mamaku, mereka baik karena ada maunya, entah dikarenakan dirinya ingin menjadi salah satu karyawan pertamina, atau anaknya yang ingin masuk jadi karyawan pertamina, dan kata mamaku, papa adalah orang yang mengetest para calon karyawan tersebut jadi yeeah agar jalannya licin dibaik-baiki.. dan mama selalu menekankan padaku dan mungkin juga pada saudara-saudara yang ada empat orang tersebut, \\\”JANGAN TERIMA APAPUN dari MEREKA\\\”.

Mamaku orangnya mirip sekali dengan orang China, mata sipit, kulit putih licin mulus tetapi mamaku penduduk asli Palembang seperti juga Papaku yang Kemas, yang berarti mamaku, Nyimas. Usianya jauh di bawah papa sekitar 13 tahun namun mama mampu mengimbangi keberadaan papa sebagai orang yang diperhitungan pada saat itu di perusahaan yang katanya mengelola minyak mentah  dan mama termasuk kategori sosok wanita yang  mengagumkan karena sesungguhnya mamaku tidak tamat Sekolah Dasar meskipun pandai membaca, menghitung dan soal masak memasak, beliau jagonya. di komplek kami tinggal mama terkenal sebagai pembuat kue lapis legit yang special sehingga banyak tetangga yang ingin dibuatkan atau diajari cara memasaknya.

Kami tinggal kompleks Pertamina Sungai Gerong mulai tahun 1972 dan keluar dari kompleks tahun 1982. Kehidupan di kompleks tidak begitu aku ingat namun tetap memberikan kenangan indah. kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kendaraan bermotor dan kehidupan yang adem tentrem aku rasakan sampai usiaku menjelang remaja.

Kini papaku telah tiada, beliau meninggal tahun 2003 beberapa bulan sebelum anak keduaku lahir, sementara mamaku telah mendahului papa pada tahun 2000, seminggu sebelum akad nikahku berlangsung.

Papa mengajarkanku kejujuran karena walaupun beliau seorang pemimpin, tak ada sedikitpun menarik keuntungan pribadi. kehidupan papa begitu bersahaja, melakukan kerjanya sesuai dengan tuntunan Ilahi, karenanya tidak heran jika ada mantan bawahannya tercengang ketika melihat rumah kami setelah papa pensiun, jauh dari bayangannya karena dia tahu siapa papa, tetapi papanya menanggapinya biasa saja, beliau bersyukur kami tetap bahagia sebagai anak-anak papa dan mama.

Mama mengajarkanku ketegaran dan kesetiaan, meski mama tahu sebenarnya papa bisa memberi kehidupan yang mewah namun dia bisa menerima pilihan papa untuk bersikap jujur dan lurus sesuai prosedur. Mama selalu setia mendampingi papa hingga akhir hayatnya, beliau tidak pernah mengerutui papa yang tidak menyuguhkan kemewahan dunia.

Aku, Dra. Herdayani. seseorang yang pernah menjadi salah seorang tenaga pengajar di sebuah SMK Swasta dan pernah menjadi seorang Bendahara Yayasan bernuansa Islam bangga menjadi anak mereka, Papa dan mamaku.. walaupun aku tidak mewarisi harta melimpah, namun aku bersyukur dan bangga .. aku memiliki ilmu dan pendidikan yang mereka ajarkan dengan tulus dan memberi kesempatan sebebas-bebasnya menentukan sendiri prinsip ilmu apa yang aku dambakan. dan mereka tidak protes ketika aku menolak menjadi pengawai negeri sipil. dan aku yakin merekapun bangga padaku seperti juga aku bangga sebagai anak mereka.

\"\\"love-muhammad\\"\"

SELESAI

antara bangga dan sombong

teeng jam menunjukkan pukul 14.00 tepat, atau menurut si kecil berambut panjang berbaju ungu berpita kupu-kupu jam dua siang…

dia lagi asyik bermain komputer dan berkelana di dunia maya. Facebook menjadi idola. satu demi satu aktivitas dalam FB (begitu dia sebut) didekati dan disapanya.. sikecil begitu lincah menarikan jemari lentiknya.

“waw… banyak sekali temennya” tiba-tiba sapaan kagum pengunjung warnet selain dia berteriak nyaring. si kecil menoleh ke sumber suara, dan pemilik suara itu sebaya dengan dirinya.

“ya dong.. dan kamu tahu tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. aku selalu bisa” katanya sambil nyengir lucu..

si pemilik suara yang kita sebut saja sikecil satunya, ikut nyengir …

dan merekapun kembali asyik dengan komputernya masing-masing.

… yeah begitulah aktivitas anak-anak sekarang ini. sepulang sekolah di sela-sela jam istirahat mereka menerjunkan diri ke alam maya.. menjelajahi web-web yang ada di dunia maya.. membiarkan diri mereka duduk di depan komputer dan membiarkan mata mereka melotot tak berkedip menatap monitor…

lain dan sangat beda dengan dunia kanak-kanak ku dulu. sepulang sekolah, aku memilih tidur dan jika bangun aku muter-muter mengelilingi kompleks rumah dan ber hai-hai dengan temen-temen kecilku.. kemudian jika capek aku pulang, mandi dan nonton televisi, belajar atau mengerjakan PR kemudian tiduurrrr… komputer sudah ada tetapi internet masih termasuk barang langka.

kata hati

Kamis, 27 Mei 2010

Hari ini aku tidak berharap banyak atas apa yang akan berlangsung hari ini, aku hanya menjalani apa yang harus dijalani sebagai seorang manusia.

dan ternyata semua berjalan seperti juga hari-hari yang telah berlalu..

yang cantik tetap cantik

yang jelek tetap jelek

yang nyenengi tetap nyenengi

yang nyebeli tetap… nyebeli….

dan aku merasa bosan. aku mencoba mencari yang beda, tetapi kebosanan itu bagai sudah digariskan untuk hari ini… jadi aku tetap membosan..

lalu… aku coba untuk melupakan kebosanan itu…

sepertinya aku … kembali berharap pada sesuatu…untuk tidak lagi bosan…

KUJEMPUT CINTAKU

hati-dalam-hati

Sore yang tenang, setelah seharian hujan membasahi bumi persada ini akhirnya di saat lonceng berdentang 4 kali, perlahan namun pasti hujan pun reda.. aku membuka jendela kamarku yang menghadap ke jalan raya yang sewaktu hujan tadi terlihat sepi.. dan sepertinya mulai banyak kendaraan bermotor yang melintas … hemn.. ramei lagi. kata hatiku.

” Mama.. mama di mana ?” suara Tia, anak nomor duaku terdengar memanggil.. hemn aku tersenyum sendiri.. selalu kata-kata itu yang dilontarkannya jika mencariku.

” di sini, di kamar .. ” jawabku. dan tak lama dia pun datang dengan segenap perlengkapannya.. tas punggung, boneka anjing dan jaket.

“Mau kemana Tia ?” tanyaku heran..

“Jalan-jalan.. ” sahutnya mengemaskan dan langsung duduk dipangkuanku sesaat setelah aku duduk ditepi ranjang tempat tidurku dan suamiku.

“sama siapa ?”

“sama Ak Yan, Papa dan Mama”

“Kok mama dak tahu”

“Kejutan.. dan mama mau kan..” katanya lucu.

“Yaah tergantung.. tapi apa bener papamu mau jalan2 dengan kita” eeh aku ragu karena aku tahu suamiku kurang suka berjalan2 dan bila pun mau di ajak.. ocehannya berkarung-karung jumlahnya.

“lhaa, papa sendiri yang ngajak” kakaknya Yan muncul dan dibelakangnya papa mereka senyam-senyum..

“tumben Kak ?” komentarku sambil meraih jilbabku

“aku lagi bosen Ni’ dari tadi bengong dak ada kerjaan.. kita jajan bakso saja yok” kata suamiku manis.. aku nyengir.. dan menuju ke luar menyiapkan kepergianyang akan dilaksanakan.

tetapi pada saat aku menuju tempat helm disimpan. telpon berdering. suamiku mengangkatnya..

” ya yuk.. aku akan telpon Dendy.. dan kami akan segera meluncur ke sana..”

” dek.. aku pergi dulu ya.. nanti saja kita jajan baksonya”

aku hanya bisa terlongoh sama dengan anak-anakku, bahkan Tia mulai menangis. kupeluk dia.. sementara kulihat Yan sepertinya tidak peduli. dia kembali ke kamar nya dan kudengar suara speaker komputernya berbunyi.. aah anakku satu itu selalu mengalihkan perasaannya pada komputer dan internet.

sementara suamiku sudah jauh berlalu. suara motornya sudah sayup-sayup kudengar.. kurasakan kembali goresan luka dalam hatiku.. ini sebetulnya bukan kejadian pertama… tapi kali ini luka itu semakin kental.. aku rasakan aku cuma orang kedua bagi suamiku.. dan orang pertama itu yang menelpon itu. seseorang yang disebut saudara angkat oleh suamiku.

kurasakan ada yang hangat-hangat mengalir di pipiku.. tetapi cepat kuhapus.. sementara Tia pun sudah reda tangisnya.

“Papa jahat…” kata mulut mungilnya

aku tersenyum.. dalam hati aku membenarkan.. tapi kepada Tia kukatakan,

“Papa mendadak ada keperluan sayang.. dan itu sangat penting.. kita harus maklum.. jika papa tidak indahkan keperluan itu papamu sakit.. atau yang nelpon itu pingsan..”

“Segawat itu apa Ma..? sepertinya lebay deh Ma…” tiba-tiba Yan anakku muncul lagi. dia lalu duduk di sampingku. wajah manisnya tersenyum penuh kearifan menatap wajahku, mencari sesuatu di sana, kukira. Kuraih tubuhnya dan memeluknya. Yan sudah 10 tahun, dia sudah semakin dewasa dan dengan sikap pendiamnya dia kadang menjadi seorang pahlawan bagiku, meski dia masih termasuk kecil, baru kelas 5 SD lagi.

“sudah la Yan, mengapa kita ributkan. ini kan bukan kejadian yang pertama. mungkin Wak Usi itu memang sangat penting urusannya sehingga papamu dan om dendy harus cepat-cepat menemuinya” kataku tanpa nada.

“Mama terlalu sabar. Papa terlalu penurut. Wak Usi egois. sudah tahu kalau papa itu tidak lagi seperti dulu sebelum menikah dengan mama masih saja diganggui dengan persoalan-persoalan dia yang tidak penting itu” kata Yan tajam.

Aku tersenyum, aah Yan, andai saja kamu bisa melihat isi hati ini akan kau lihat bagaimana perihnya menjadi orang kedua. tapi mau bagaimana lagi, wak Usimu itu memang lebih dulu ada dalam kehidupan papamu, dan meski katanya seorang ayuk angkat tetapi sikapnya lebih dari sekedar belahan jiwa. dulu sewaktu kamu masih berusia 8 tahun Yan, mama sempat protes sama papamu, saudara-saudara papamu. tetapi semua membenarkan tindakan papamu yang tetap menomor satukan ayuk angkatnya itu karena ada pesan dari suami ayuk angkat papamu itu sebelum meninggal. dan papamu sangat menaruh hormat dengan suami ayuk angkat papamu itu. dan demi kau Yan dan adikmu, mama bertahan sampai detik ini meski cuma jadi orang nomor dua. mama tidak ingin jiwa kalian terlukai jika mama memilih untuk keluar dari kehidupan papamu, dan membiarkan papamu pull memberikan hati dan dirinya untuk ayuk angkatnya itu.

“Mama. Wak Usi itu jahat, Tia benci…” kata Tia sedih… kupeluk dia,

” hentikan pemikiran semacam itu Tia.. merusak jiwa sendiri. biarkan saja jika dia maunya begitu. Wak Usi bisa saja begitu karena papamu memberi dia peluang untuk itu, bermanja dan bergantung pada papamu”,

“Papa cinta sama Wak Usi… papa dak cinta sama Mama” jerit Tia dengan air mata berlinangan..

“Anak kurang ajar.. siapa yang mengajari kamu bicara seperti itu…” tiba-tiba bergeligar suara bentakan suamiku, papa Tia dan Yan. rupanya dia sudah kembali. Kontan Tia dan Yan memelukku erat-erat.

“Kenapa kakak marahi Tia.. ” Tegurku.

“Dia tidak semestinya berkata begitu Ni’. pasti kau yang mengajarinya ya. kamu memang selalu membuat persoalan. selalu menyalahkan aku. kamu racuni pemikiran anak-anak..kamu seharusnya mikir Ni’, apa yang kurang dari aku suamimu ini. semua kebutuhanmu aku cukupi. anak-anak aku berikan perhatian dan kasih sayang. bahkan rumah almarhum orang tuamu ini aku rehab dan aku bagusi. apa lagi kurang aku Ni’. jadi apa salahnya jika aku … ”

suamiku berhenti bicara..

“Yaaa. kak.. jika apa ?” aku menunggu.

“Ah tidak.. tidak apa-apa. aku cuma mengingatkan Tia, kamu jangan ngomong seperti itu lagi, tidak sopan” suaranya merendah. dia keluar kamar dengan wajah sedikit memerah.

“Nah kan ma bener.. Papa cinta sama Wak Usi. Papa munafik… ” tandas Tia.

“yaaah sudah la Tia.. ayo.. kita pergi bertiga saja yok beli baksonya. masih sempat kan belum magrib..ayo…tapi yang dekat rumah saja ya..” hiburku.

Yan dan Tia tersenyum, bergantian mereka mencium pipiku. lalu kami bertiga keluar, menuju warung bakso yang letaknya kelang dua rumah dari tempat kami. kulihat Papanya anak-anak di samping pagar rumah dekat mobil dendy bersama Dendy.

“Mau kemana Yuk..?” tanya Dendy basa-basi. sementara suamiku pura-pura sibuk dengan pintu mobil Dendy yang terbuka lebar.

“Jajan Bakso..” sahutku singkat sementara kedua anakku tidak memperdulikan kedua makluk ciptaan Allah yang telah menjadi pengabdi setia Ayuk angkat mereka, Wak Usi. seorang Janda Jenderal RI yang sudah almarhum beberapa tahun yang lalu. seseorang yang sangat dicintai oleh papanya anak-anakku. aah, rahasia yang sebenarnya ingin sekali kuungkapkan. tetapi papanya begitu rapi menyimpannya sehingga aku tidak punya kesempatan untuk membongkar rahasia itu. Yaaah… aku memang hanya lah seorang nomor dua di mata Suamiku…. aku kalah hebat dengan sang ayuk angkat.. aaaaah.

armada-gagal-bercinta

TAKUT…

Ya Allah…

kian hari aku semakin merasa keadaan ini tidak menyenangkan

sikap yang menjauh  dan melupakan itu begitu kental

aku sajakah yang merasa atau yang 4 juga merasakan

tetapi memilih diam agar tidak lebih parah…

aku tidak tahu.. ya Allah.

kedekatan itu … mengapa tidak seimbang.. hanya satu pihak

sementara pihak yang lain, ada pemisah yang kokoh.

adakah yang salah pada pihak yang lain itu.. ?

5 dengan 5 yang lainnya.

dan 5 ini seakan musnah tertelan oleh kehadiran 5 yang lainnya.

ya Allah…

adakah ini sebuah kesalahan dari awal sebuah jejak terpijak

atau pondasi yang terlalu rapuh ?

aku takut.. ya Allah..

namun aku tidak tahu takut karena apa…

hanya ada gejolak bergemuruh di dada ku di saat satu demi satu foto-foto itu kulihat.

dan entah mengapa ada sesal yang terpahat di sana..

aku tidak tahu takut itu semakin mempengaruhiku..

aku.. takut .. ya Allah.

Akhirnya…..

Rabu, 24 Maret 2010

Nah kan akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga hari ini. Ak mendatangi kak Yang, marah-marah. dan mengatakan kak Yang seenaknya saja membangun tanpa memperdulikan keadaan rumah Ak. dan tidak ngomong apapun mengenai rencana untuk membangun.

Dan seperti biasa, di saat dipersalahkan, kak Yang mulai ngomong tinggi mengenai kejadian masa lalu nya yang hebat.. dan AK langsung naik pitam.. hm aku jadi kesel. oooiii dak usyah ngomong  cak itu. sekarang sebagusnyo cari solusi bukan cari pertengkaran.. alhamdulillah keduanya langsung menurunkan emosi masing-masing.

sepertinya selama ini memang di antara kak Yang, kaka, Ak, dll kurang komunikasi. jika pun berkomunikasi semuanya penuh basa basi.. ujungnya kan basi.. hehehe..

dan pribadi kak Yang memang orangnya hanya yakin dengan pemikirannya sendiri. PD habis. jadi yaah begitu lah. dia tidak memerlukan pendapat orang, dia hanya butuh orang menjadi pendukungnya. dan dia juga tidak peduli bagaimana perasaan orang, pemikiran orang yang dia perhatikan hanya perasaan dia, pemikiran dia. dan dia sangat yakin bahwa apa yang dilakukannya tetap berada di rel yang sudah Allah tetapkan. Yaaah.. aku mulai mengenal si suami.. hehehe…

kejadian sore ini bikin aku tersenyum.

si Ak yang suka memendam perasaan

Kak Yang yang suka seenaknya sendiri

akhirnya saling bicara, dan alhamdulillah berakhir lumayan baik. tetapi aku tidak yakin dengan tindakan kak Yang selanjutnya. dia memang penuh misteri. dan tadi dia seperti bicara untuk berlalu dari 12 ulu. setelah semuanya selesai, dia akan pergi. seolah-olah dia hendak meninggalkan kami..dan mengejar cita-citanya yang tertundah.. ai-ai, mengapa aku berpikiran begitu ya.. tapi aku harus selalu siap atas segala kemungkinan yang akan terjadi.

Aku tahu, aku harus berusaha untuk menjaga keutuhan rumah tangga kami meski tanpa perasaan cinta seperti cinta romantis orang2 yang suka simpang siur di kisah asmara. aku tidak ingin anak-anakku harus kehilangan sosok ayah dalam kehidupan mereka.

dan aku harus bisa untuk hadir sebagai aku yang penuh kasih meski tidak punya kekasih. aku harus mampu membingkiskan sebuah cinta meski tidak pernah mendapatkan cinta…

yaaaah.. karena aku Sayang semua… anak-anakku, suamiku, saudara-saudaraku… yaaah.. aku yakin.. aku sosok penuh cinta kasih pada semua…

semoga ALlah memberi aku suatu kekuatan yang luar biasa untuk bertahan pada semua yang terjadi pada ku.. amin.

Tatapan …

Palembang, Selasa tanggal 23 Maret 2010

hari ini mertua dari wiwin meninggal, mama dari Baying. innalillahiwainaliroziun. semua yang berasal dari Allah akan kembali ke Allah. semoga baying dan keluarga tabah dalam menghadapi cobaan ini dan merelakan sang mama kembali kepangkuan Ilahi.. amin.

yaah satu lagi sosok yang kukenal pergi mendahului aku untuk kembali kepadaMu, Ya Allah. dan aku entah kapan giliran itu tiba padaku. itu rahasiaMu ya. Allah.

saat ini Kau masih beri aku kehidupan.. dan sebuah perjalanan di muka bumi ini yang setiap detik setiap menit menjanjikan sebuah pertualangan.

Ya Allah, aku tidak tahu apakah aku bahagia dengan takdir ini. aku punya suami, aku punya anak-anak, aku punya bisnis, aku punya tanggung jawab. bila di dalam kebutuhan sehari-hari, aku berkecukupan, (alhamdulillah) tetapi aku juga tidak punya mamapapa lagi, tetapi ada saudaraku meski dekat dimata tetapi jauh dihati, tetapi ada juga saudara2ku meski jauh di mata dekat dihati. dan suamiku, dia begitu rumit dan kadang bikin hati ini sakit. tetapi aku tidak tahu pasti, apakah dan bagaimana sebenarnya dia.

kadang aku berpikir, dia adalah sosok yang jahat, yang setiap waktu akan menjatuhkan aku. tetapi di lain saat aku melihat ketulusan.

kadang aku berpikir, dia adalah sosok yang baik, yang jika sempat senantiasa memberiku perlindungan, tetapi di lain saat aku merasa aku diakali.

bingung.. jujur ya Allah, aku tidak mengerti dia.

dan dia juga sepertinya sangat suka membuat keonaran. seolah-olah dengan keonaran itu dia merasa bahagia. karena itu aku kadang tegang sendiri jika dia sudah bicara soal sikap kakak ku yang menurut dia bodoh, tidak pintar dan lain sebagainya yang pasti kata2 nya itu bikin telinga yang mendengar jadi panas.

lalu sikapnya.. seperti yang paling bener..

aku tidak tahu ya Allah, aku bingung. aku ingin dia dan saudara2 ku yang lain tidak terlibat adu argumen. aku ingin dia tidak bicara seenaknya tentang saudara2ku. aku ingin di antara dia dan saudara2ku tercipta kedamaian.. sementara dia sepertinya sangat suka menuding, mencaci, mencela, menghujat, dls, dll..

pada saat ini dia rehab habis rumah peninggalan mama dan papaku, dia perbaikan yang rusak, dia tata yang terlihat berantakan, dia atur ulang yang tidak cocok.  reaksi saudara-saudaraku bermacam-macam. dan ada satu sikap saudaraku yang kadang bikin aku jadi tegang. dia memang diam. tapi sikapnya menunjukkan ketidaksukaannya dengan keputusan si dia yang merehab rumah ini habis. sementara si dia sepertinya memang menunggu ketidaksukaan itu. mengapa.. mengapa dia begitu ya.

rumah mamapapa ku ini diperbaiki memang bagus, karena sudah banyak yang rusak dan tak layak guna.. aku bersyukur.

tapi mengapa kakakku seperti menjadi tidak suka pada suamiku

dan suamiku mengapa seperti sengaja agar kakakku tidak suka.

duuh pusing aku. aku tidak ingin ada bentrok. semoga saja tidak ya.. semoga Ya ALlah, Kau tidak memberi kesempatan untuk bentrok.. amin-amin.

sebenarnya suamiku adalah sosok yang baik. dia bertanggung jawab, dia merasa mengapa tidak, di sini aku tinggal bersama anak dan istriku. jika keadaan memburuk sementara dana mencukupi, sah-sah saja direhab dan diperbaiki.

tetapi tabiatnya sangat aneh. jika ada saja orang salah bicara, dia langsung berpikiran negatif, dan ujung2nya kata-katanya melekit dan melecit.. sepertinya doyaaaan sekali untuk bermusuhan..

ya Allah.. tabiat aneh ini bisa dibumihanguskan nggak ya..

dan lalu mengenai perasaan. dia seperti tidak punya perasaan. seenaknya dan tidak mau tahu dengan perasaan atau pendapat orang lain. makanya aku tidak simpati ketika dia menunjukkan sikap penuh perasaan sama si ayuk angkat.

aaah sudahlah.. dia memang pribadi yang sulit dan rumit.

yang penting sekarang, dikesempatan aku diberi kehidupan oleh MU ya Allah. aku akanberusaha untuk dekat dan selalu patuh padaMu..

yaaah seperti pernah aku tanamkan dalam hatiku. MENJAUHI LARANGANMU dan MENJALANKAN PERINTAHMU.. yaaaaah….

berpikir jernih

Palembang, Sabtu 20 Maret 2010

hari ini setelah beberapa hari dia bertingkah baik padaku.. kembali dia marah-marah dan memaki serta mencerca aku hanya karena aku lambat memberi uang yang dia pinta. sebenarnya aku bukannya mau melalaikan apa yang dia perintahkan, tapi aku kan lagi masak nasi dan sedang menyiapkan makan siang untuk anak2 nya. Lagi pula aku pikir uang itu untuk nanti, makan siang nya kan sudah kusiapkan dan tinggal di santap, aku pikir dia butuh uang itu setelah makan, dia tidak bilang, kalau uang itu maunya saat itu juga.

aku semakin memahami bagaimana posisiku di dalam dirinya.

aku ingat ketika aku jatuh dari tangga. dia diam saja, menolong aku bangun dari jatuh pun tidak dilakukannya. bahkan marah dan menyuruh agar hati-hatipun tidak dilakukannya. dia cuek saja dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada diriku.

dan jika saat ini tangga itu kemudian di rehab nya yang mana menurut dia agar aku tidak jatuh lagi.. itupun sebenarnya karena dia takut anak2 nya ikut jatuh, apalagi anak nomor dua kami yang terjun bebas dari anak tangga paling atas beberapa waktu yang lalu.

ya ya.. ya.. biarlah kita ambil bagusnya sajalah.. sekarang tangga rumah peninggalan mama dan papa ini tidak licin lagi, insya’allah aku pun tidak jatuh lagi..

bah.. marah hari ini pun semoga dapat kumengerti.

meski aku semakin menyadari sesuatu hal

bahwa jika hal tersebut mampu membuat dia menjadi susah, dia akan marah-marah dan menjadikan aku kambing hitamnya

tapi jika hal itu yang rugi hanya diriku, dia tidak akan peduli

yaaa yaaa… tidak apa-apa..

semoga Allah mengubah hatinya mengarah pada hal yang lebih baik, jika hari ini belum.. semoga besok dan besok.. menjadi kenyataan. amin.

WHY….

Di saat aku merasakan keramahan itu

aku merasa ada sedikit bahagia di hatiku

namun di saat kudengar bagaimana

kau sedikitpun seolah tak menghargaiku

aku kembali berada pada posisi yang sulit kugambarkan

yang pasti hatiku merasa disakiti…

dansemakin kutepis perasaan itu semakin memuncak

tapi aku merasa tak penting jika harus menangis.

lalu satu yang terukir di benakku, sebuah tanya

kalau sudah begini apa yang harus kulakoni

aku muak dengan kesemuanya yang seolah palsu

meski aku tidak memiliki sebuah bukti

bahwa di dalam hatinya ada dia.. dan itu sudah tersimpan lama

hanya keadaan tak memungkinkan dia untuk bersamanya

dan memilih aku untuk ditemani, tapi bukan karena rasa cinta nan tulus.

aku benci.. aku tidak suka

tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berkata serta berdoa

semoga semuanya membuat dia mengerti

bahwa aku berharga dan dia tak pantas mengabaikanku

aku patut untuk dicintai dengan tulus… amin.

renungan

setelah diam di hati pertama kepulangannya dari Jakarta, dia jadi sering mencandaiku, dan setiap kegiatanku ditanyakan.. awalnya aku seneng sekali melihat perubahan ini tetapi di saat tanpa sengaja aku mendengar ucapannya dengan sepupunya yang dekat dengan dia.. hatiku kembali tergores..

“aah gampang.. dengan memberi perhatian yang sedikit lebih, kecurigaannya hilang.. dak usyah khawatir. gampang la itu.. ”

deg.. ada dak puas di hatiku.. ada ego mencuat dalam dadaku, aku tak suka dibilang gampangan begitu.. dan kenapa aku jadi semakin yakin bahwa dia betul ada perasaan cinta kepada tuh ayuk.. bah.. aku merasa tersudut pada ruangan yang hampa udara..

dan aku merasa muak dengan semua ini. aku benci.. benci sekali.

tetapi mestikah aku ngamuk atas semua kata-katanya itu. aku merasakan ketidak tulusan.. dan perlukan itu kugugat.

ya Allah, aku tidak tahu bagaimana sebenarnya warna hatinya kepadaku.. putih, hitam atau belang beleng.. yang pasti ucapannya itu mengigit jiwaku

dan aku BENCI… BENCI.. BENCIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII sekali.

« Previous Entries