Nama papaku, H. A.Bunyani, Nama mamaku, Cek Ron.
Aku tidak tahu apakah dimasa hidupnya dulu papa dan mamaku adalah orang-orang yang disukai atau sebaliknya orang-orang yang tidak disukai. Papaku dulu sebelum pensiun adalah seorang karyawan pertamina. kerjanya di Sungai Gerong, memiliki kantor yang besar dan luas di mana lantainya dilapisi karpet tebal berwarna hijau. ada ruang khusus papaku dan di dekat ruang tersebut ada ruang rapat yang udaranya selalu sejuk karena AC, kata papaku di ruangan tersebut tidak boleh ada rokok, waktu aku tidak tahu alasannya.
Kata orang-orang disekitarku (saat itu) papa adalah kepala personalia pertamina bagian diklat atau apa aku saat itu tidak paham, namun yang kutahu betapa sering papa didatangi tamu dan semuanya ramah-ramah padaku baik orang yang seperti diriku, pribumi Indonesia kesipit-sipitan, ataukah besar tinggi macam orang eropa. mereka baik sekali tapi kata mamaku, mereka baik karena ada maunya, entah dikarenakan dirinya ingin menjadi salah satu karyawan pertamina, atau anaknya yang ingin masuk jadi karyawan pertamina, dan kata mamaku, papa adalah orang yang mengetest para calon karyawan tersebut jadi yeeah agar jalannya licin dibaik-baiki.. dan mama selalu menekankan padaku dan mungkin juga pada saudara-saudara yang ada empat orang tersebut, \\\”JANGAN TERIMA APAPUN dari MEREKA\\\”.
Mamaku orangnya mirip sekali dengan orang China, mata sipit, kulit putih licin mulus tetapi mamaku penduduk asli Palembang seperti juga Papaku yang Kemas, yang berarti mamaku, Nyimas. Usianya jauh di bawah papa sekitar 13 tahun namun mama mampu mengimbangi keberadaan papa sebagai orang yang diperhitungan pada saat itu di perusahaan yang katanya mengelola minyak mentah dan mama termasuk kategori sosok wanita yang mengagumkan karena sesungguhnya mamaku tidak tamat Sekolah Dasar meskipun pandai membaca, menghitung dan soal masak memasak, beliau jagonya. di komplek kami tinggal mama terkenal sebagai pembuat kue lapis legit yang special sehingga banyak tetangga yang ingin dibuatkan atau diajari cara memasaknya.
Kami tinggal kompleks Pertamina Sungai Gerong mulai tahun 1972 dan keluar dari kompleks tahun 1982. Kehidupan di kompleks tidak begitu aku ingat namun tetap memberikan kenangan indah. kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kendaraan bermotor dan kehidupan yang adem tentrem aku rasakan sampai usiaku menjelang remaja.
Kini papaku telah tiada, beliau meninggal tahun 2003 beberapa bulan sebelum anak keduaku lahir, sementara mamaku telah mendahului papa pada tahun 2000, seminggu sebelum akad nikahku berlangsung.
Papa mengajarkanku kejujuran karena walaupun beliau seorang pemimpin, tak ada sedikitpun menarik keuntungan pribadi. kehidupan papa begitu bersahaja, melakukan kerjanya sesuai dengan tuntunan Ilahi, karenanya tidak heran jika ada mantan bawahannya tercengang ketika melihat rumah kami setelah papa pensiun, jauh dari bayangannya karena dia tahu siapa papa, tetapi papanya menanggapinya biasa saja, beliau bersyukur kami tetap bahagia sebagai anak-anak papa dan mama.
Mama mengajarkanku ketegaran dan kesetiaan, meski mama tahu sebenarnya papa bisa memberi kehidupan yang mewah namun dia bisa menerima pilihan papa untuk bersikap jujur dan lurus sesuai prosedur. Mama selalu setia mendampingi papa hingga akhir hayatnya, beliau tidak pernah mengerutui papa yang tidak menyuguhkan kemewahan dunia.
Aku, Dra. Herdayani. seseorang yang pernah menjadi salah seorang tenaga pengajar di sebuah SMK Swasta dan pernah menjadi seorang Bendahara Yayasan bernuansa Islam bangga menjadi anak mereka, Papa dan mamaku.. walaupun aku tidak mewarisi harta melimpah, namun aku bersyukur dan bangga .. aku memiliki ilmu dan pendidikan yang mereka ajarkan dengan tulus dan memberi kesempatan sebebas-bebasnya menentukan sendiri prinsip ilmu apa yang aku dambakan. dan mereka tidak protes ketika aku menolak menjadi pengawai negeri sipil. dan aku yakin merekapun bangga padaku seperti juga aku bangga sebagai anak mereka.
SELESAI
